BUDI MENURUT ADAT MINANGKABAU (bagian 2)

 BUDI MENURUT ADAT MINANGKABAU (2)

Ratmil, S.Sos., M.Pd.

 A.   Tujuan

Materi Penyanyi bertujuan untuk review memberikan pemahaman Dan pemahaman ditunjukan kepada Santri Dan Santriwan Peserta Pesantren Ramadhan TENTANG fungsi fungsi budi Dan Hal-Hal yag merusak budaya * Menurut adat MInangakabau  , Dan   Sekaligus para santri Mampu  mempraktikkan  Nilai-Nilai  Budi   menuru  t  Adat Minangakabau   hearts kehidupan Sehari-hari.

 B.   Pengantar

Pada materi Budi sebelumnya para santri tersebut sudah memahami tentang pengertian, macam-macam dan landasan tentang budi, selanjutnya kita akan memdalami tentang fungsi budi dan hal - hal yang merusak budi tersebut.

 C.   Fungsi Budi

Budi memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah sebagai landasan berperilaku di masyarakat.  Budi memang harus mengajar sejak dini kepada anak.  Hal ini dilakukan karena dapat mendorong perilaku berperilaku anak tersebut dengan memiliki moral dan etika yang baik.  Budi dapat mengajarkan melalui keteladanan, pola hidup sederhana, kegiatan spontan seperti sebuah tindakan sebab-akibat yang dilakukan pada saat itu juga peringatan peringatan tentang kesalahan yang dilakukan berupa teguran, sanksi atau sikap saling memaafkan.  Selain itu budi dapat masuk dalam kegiatan yang dilakukan secara rutin.  Pendidikan budi ini memiliki fungsi sebagai berikut:

1.   Media pengembangan,   yaitu sebagai tahap tingkatan agar dapat berperilaku yang lebih baik di keluarga maupun masyarakat.

2.   Penyaluran  , yaitu sebagai sarana memanfaatkan keahlian tertentu agar semakin tersalurkan dengan optimal serta dapat bermanfaat untuk orang lain.

3.   Perbaikan  , yaitu sebagai tahap evaluasi tindakan.  Supaya jika tanpa sengaja terjadi kesalahan, maka dengan mudah dapat memperbaiki kesalahan tersebut.

4.   Pencegahan  , yaitu tahapan yang berfungsi untuk mencegah segala tindakan dan perilaku yang buruk atau kurang baik di masyarakat.

5.   Pembersih  , yaitu tanggung jawab secara psikologis.  Seperti menjauhi perasaan sombong, pendendam, pemarah, iri hati, dan lebih memiliki rasa tenggang rasa, menghormati, sopan santun, dan lain-lain.

6.   Filter,  yaitu sebagai media penyaring kebudayaan yang sesuai dengan hukum dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. 

 D.    Merusak Budi

Adat Minangkabau menging  sebuah  tkan kaumnya Dan orangutan  -orang   Yang Tinggal di Minangkaba  u   agar Jangan Sampai Budi Jadi Rusak KARENA perangai Yang Sedikit   Yang kitd perbuat, Ekspresi Ungkapan   ,  “Sakali lancuang ka ujian, saumua Hidup urang Indak Picayo”, “Rusak susu sabalango dek niro satitiak ”  .

Minimamal ada 5 macam yang akan merusak smartphone yaitu kurang rasa, kurang rasa, kurang baso jo basi  dan  tidak tahu dengan langgam kato nan ampek.

 1.   Berkata Kasar  

Orang Yang Suka mengejar ketertinggalan kasar, ATAU Suka bersuara keras Hal ITU akan merusak Lingkungan Yang Sudah kitd t  sebuah  nam selama inisial.  Berkata kasar adalah menyampaikan sesuatu dengan kata-kata yang menyinggng perasaan orang lain, karena tidak pandao memilih kata yang pas, pilihan kata yang tidak sesuai atau kata-kata menyindir.  Orang minang tidak tahan disindir;  dia tidak cepat tersinggung kalau kulitnya yang tersakiti, tapi akan luka kalau disindir.  Demikian pula kalau kata-kata yang keluar itu nadanya keras atau nadanya terlalu tinggi seperti menghardik juga tidak baik untuk orang Minang.  Orang akan menilai kita sebagai orang yang rusak budi.

Adat   Minang selalu mengajar tentang  elalu  kata-kata jangan sampai kasar, apa lagi disampaikan dengan nada keras seperti menghardik.  Cukup lembut dan terdengar oleh lawan bicara, orang akan tersinggung bila kita berkata keras-keras biasanya orang akan menggunakan kata “ambo indak pakak bagai doh”.  B  anyak ajaran ada  t   Minang, rujukan kita jangan sampai inspirasi hal, karena inspirasi budi yang selama ini kita buat akan menjadi rusak.  Di dalam kato pusako antara lain lamaran seperti berikut  :

 Hilia malonjak, mudiak mangacau, kiri kanan mamacah parang,

mangusuik alam nan salasai, mangaruah aia nan janiah  .

 bapaham bak kambiang dek ulek, karano miskin pado budi

 barundiang bak sarasah tajun karano takabua dalam hati,

marubahi lahia jo batin,

maninggakan sidiq jo tabali  gh  , mamakai cabua sio-sio,

kato nan lalu lalang sajo, sabab lidah indak batulang.

 2.   Kurangnya Rasa Malu

Malu adalah suatu fungsi dari suara hati manusia yang mampu membentengi seseorang yang melakukan perbuatan yang tidak baik atau tidak sopan.  Islam memerintahkan  agar setiap kita   memiliki sifat   malu  ,  karena  rasa malu yang berbeda dari seseorang yang memiliki akhlat atau tidak, o  rang yang tidak memiliki sifat malu, akhlaknya akan rendah dan tidak mampu mengendalikan nafsu nafsu  .

 “Jika Allah SWT ingin menghancurkan kaum, dicabutlah dari mereka rasa malu.  Bila rasa malu telah hilang maka yang muncul adalah sikap keras hati.  Bila sikap keras hati membudaya, Allah mencabut dari sikap mereka amanah (kejujuran dan tangung jawab).  Bila sikap amanah telah hilang maka yang muncul adalah para pengkhianat.  Bila para mengkhianat merajalela Allah mencabut rahmat-Nya.  Bila rahmat Allah telah hilang maka yang muncul adalah manusia laknat.  Bila manusia laknat merajalela Allah akan mencabut dari mereka tali-tali   Islam . (HR Ibnu Majah)    

 Dalam adat Minangkabau  selalu mengajarkan dan memilihara ra  s  a malu.  Jangan sampai hilang rasa malu, berasap sudah hilah rasa malu maka akan rusak dan binasalah adat kita.

Orang minang mewariskan Raso Malu ITU merupakan rasa malu untuk review Bersama APA Bila kitd MEMBUAT malu Maka Yang akan merasa malu ITU Bukan kitd Malah Malah Keluarga kitd, kaum Malah masayarakan kampung kitd akan merasa malu also,   BEBAN  “Malu surang, malu Basamo.”   Artinya, meskipun seseorang yang berhubungan dengan hal yang memalukan, seluruhnya ikut merasa malu.  Jadi, orang lain akan merasa malu meskipun jiwa yang kesalah hanya satu orang.  Malah  .  

Begitu juga  jika sesorang anak tampak sangat sop  a  n, pintar, rajin, dan pandai bergaul, semua orang akan menyesuaikan orang tua, mamaknya, dan para kerabatnya ikut bangga dengan sifat baik.

 3.   Kurangnya Baso jo Basi

Baso jo basi memang penting dalam pergaulan sehari-hari.  Seperti telah dikatakan, bahwa kita tak bisa hidup berhubungan dengan orang lain, maka orang lain harus selalu dijaga agar tetap baik.  Untuk menjaganya hubungan inilah perlunya basa-basi.  Orang lain tidak tahu sopan santun akan dibenci orang.  Kalau orang-orang sudah tahu, maka kita akan tersisih dalam pergaulan. 

Malah, orang yang pandai berbasa-basi akan disayangi banyak orang.  Basa-basi dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya diperlukan dalam pergaulan dengan teman-teman.  Basa-basi juga perlu dalam berhubungan dengan orang lain.    Sebagaimana pesan adat:  “muluik manik kucindam murah”.

Jati diri orang minang akan hilang anggapan tidak ada pandai lagi berbasa basi, keharmonisan hubungan sesama itu di tandai dengan pandainya berbasa-basi.  Orang minang terkenal dengan banyaknya yang jago dalam berdiplomasi, sehingga banyak tokoh diplomat, baik di kancah nasional maupun internasional, karana ajaran adat ini dipegang teguh sejak kecil yaitu pandai berbasa basi dalam bertutur kata.

 4.   Tidak Tahu dengan “  Langgam Kato Ampek” 

Sawah itu bapamatang, artinya setiap sawah pasti ada pematang yang membatasi anatara satu kelompok dengan kelompok lainnya.  Begitu juga dalam pergaulan orang Minangkabau, selalu ada batasan-batasan yang membatasi hubungan antara satu orang dengan orang lainnya dalam bentuk segan menyegani antara satu orang dengan orang lainnya,  semua ini punya aturan sendiri-sendiri.

Misalnya, dalam berutur kata kepada ayah dan ibu haruslah dengan bahasa yang sopan.  Janganlah berkata dengan nada dan suara yang keras.  Begitu juga terhadap orang lain yang lebih tua dari kita.  Kepada orang yang lebih kecil kita harus bisa menikmati rasa kasih sayang.  Kepada orang sesama besar kita perlu memperhatikan sikap yang akrab dan suka bersahabat.  

Dalam  ajaran adat M  inangkabau terdapat ajaran ajaran ajaran  tahu di nan ampek, salah satu dari sekian banyak tahu di nan ampek itu adalah  langgam  kato nan ampek, yaitu:

1.    Kato mandaki,

yaitu cara bertutur kata kepada orang yang lebih  dituakan baik dari segi umur maupun dari segi jabatan atau kedudukukannya dalam masyarakat dengan cara   menghormati, menghargai, dan lemah lembut dalam bertutur kata, baik disekolah maupun dirumah antara anak dengan orang tua, dan lainnya.   Pepatah adat mengingatkan kita:

T  uruik pangajaran urang tuo Supayo badan nak salamaik

Talangkah  babaliak  ,   Sasek suruik 

2.   Kato mandata, 

Y aitu cara bertutur  kata  untuk sesama besar.   Pergaulan sama besar memerlukan sopan santun.  Sopan santun dapat ditunjukkan dalam perkataan dan perbuatan.  Ucapan dalam pergaulan sesama penghasillah yang menunjukkan nilai-nilai.  Nada suara tidak boleh tinggi, hindari menyombongkan diri dan merendahkan orang lain.  Diungkapkan dalam adat Minang dengan: 

Muluik manih kucindan murah

Budi baiak baso katuju

Lamak bak santan jo tangguli

Pandai bagaua samo gadang

Ingek rundiang kok manganai

Jago sandiang kok malukoi

3.  Kato manurun

yaitu cara bertutur kata dengan orang yang lebih kecil dari kita.  Kato manurun adalah sikap dan sopan santun orang yang lebih tua kepada yang lebih muda.  Orang yang muda dan anak-anak memerlukan bimbingan, arahan perlindungan serta kasih sayang dari orang tua atau orang dewasa.  P  epatah Minang  mengatakan  :  

ingek-ingek nan di ateh  kok nan   bawah    m  ahimpok

tirih kok datang dari lantai

galodo kok datang dari muaro

Adat Minangkabau menyuruh orang yang lebih tua atau orang yang dituakan hati-hati, jangan sampai inspirasi sewenang  -  wenang kepada yang lebih muda, sopan santun kepada yang muda harus diperhatikan.

3.   Kato  malereng

yaitu cara bertutur kata dengan sumando atau besan, dan orang lain yang disegani.  Kato melereng sikap dan berbicara melalui kiasan dan sindiran, bisa berbentuk pantun bidal, petetah petitih dan lainya.  Dalam hal yang berkaitan dengan sikap segan menyegani, seperti sumando terhadap mamak rumah atau sebaliknya, menantu terhadap mertua atau sebaliknya. 

 Orang Minangkabau menggunakan kato melereng atau kiasan kepada orang-orang tertentu.  Pengunaan kata kiasan ini menunjukkan perasaan yang halus dan budi yang tinggi, di dalam adat dikatakan:    Manusia tahan kieh, binatang tahan palu”  ,  artinya manusia yang ditunjukkan dengan kias dan binatang di hajar dengan palu.

Adat mengajarkan kepada kita bahwa, bila   kita  mau  makan dikedai  misalnya,  kita tidak langsung makan atau minum   begitu saja ada orang lain yang dekat dengan kita   perlu basa-basi, terutama yang dekat dengan tempat duduk kita.  Kita terlebih dahulu terlebih dahulu terlebih dahulu menyapa orang sambil mengajaknya makan   atau minum, baru kita membaca doa  .

Apabila kitd TIDAK melaksanakan hati langgam kato nan ampek Penyanyi berprilaku Sehari-hari, Maka orangutan akan menyindir kitd DENGAN kiasan:  “sarupo sawah Indak bapamatang  ”,  APA Bila kitd denga  r   ADA ucapan seperti ITU  ,   Maka Kita Harus Segera menyadari Dan Introspeksi Diri  ADA Sesuatu yang salah dalam tutur kata atau kelakukan kita, untuk itu haruslah kita mintak maaf dan  tidak membuat kesalahan lagi.

Orang  M  inang sangat terkenal dengan sopan-santunnya, orang minang banyak yang pergi merantau  , umumnya mereka sukses dengan dia   berpandai-pandai hidup  membawakan diri  di negeri or  ang,   sebagaiamana ungkapan mamangan adat sebagai berikut:

Dek ribuik rabahlah padi  d  icupak nak urang canduang  

Hiduik kalau indak babudi 

Duduak tagak kumari tangguang 

Talangkang  carano kaco Badarai 

Baganggang karano dek raso 

Bacarai karano dek budi  .

Pulau pandan jauah ditangah 

Dibaliak pulau si angso duo 

Badan dikanduang tanah Ancua 

Budiak baiak dikana juo. 

Pisang ameh bao balai 

Masak sabuah dalam peti 

Hutang ameh buliah di bayia 

Hutang budi dibawo mati. 

Penutup

Orang Minangkabau itu akan hilang identitasnya sebagai orang Minangkabau ramah tidak memiliki Budi.  Itu berarti seseorang itu akan menjadi rusak, dia tidak bisa mengontrol kata-kata yang dia ucapkan, sudah berkurang rasa malunya, tidak paham dengan “kato nan ampek” apalagi pandai berbasa-basi.

 

Sumber Bacaan:

1.   Reno Puti Raudha h  Thaib,  Carito Niek Reno,   Minangkabau Institut  Padang 2017; 

2.   Suarman, Adat Minangkabau Nan Salingka Hiduik, Solok, 2000;

3.  Zulkarnaini, Minangkabau Ranah Nan Den Cinto Budaya Alam  Minangkabau  ,   Bukittinggi: Usaha Ikhlas, 2003  .  


 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer